Minggu, 24 Februari 2013

PERSEDIAAN BARANG

PENGERTIAN PERSEDIAAN BARANG
Secara umum istilah persediaan barang dipakai untuk menunjukkan barang-barang yang dimilki untuk dijual kembali atau digunakan untuk memproduksi barang-barang yang akan dijual. Dalam perusahaan dagang, barang-barang yang dibeli dengan tujuan akan dijual kembali diberi judul persediaan barang. Judul ini menunjukkan seluruh persediaan barang yang dimiliki. Dalam perusahaan manufaktur persediaan barang yang dimiliki terdiri dari beberapa jenis yang berbeda. Jenis persediaan yang ada dalam perusahaan manufaktur sebagai berikut :
a)      Bahan Baku dan Penolong, Bahan baku adalah barang-barang yang akan menjadi bagian dari produk jadi yang mudah dapat diikuti biayanya.Sedangkan bahan penolong adalah barang-barang yang juga menjadi bagiandari produk jadi tetapi jumlahnya relative kecil atau sulit diikuti biayanya. Misalnya dalam perusahaan mebel bahan bakunya adalah kayu, rotan, besi siku. Bahan penolong adalah paku, dempul.
b)      Supplies Pabrik, adalah barang-barang yang mempunyai fungsi melancarkan proses produksi misalnya oli mesin, bahan pembersih mesin.
c)      Barang dalam proses, adalah barang-barang yang sedang dikerjakan (diproses) tetapi pada tanggal neraca barang-barang tadi belum selesai dikerjakan.
d)      Produk Selesai, yaitu barang-barang yang sudah selesai dikerjakan dalam proses produksi dan menunggu saat penjualannya.


METODE PENCATATAN PERSEDIAAN BARANG
a)      Metode Fisik, metode ini mengharuskan adanya perhitungan barang yang masih ada pada tanggal penyusunan laporan keuangan. Dalam metode ini tidak diikuti dengan mutasi persediaan, setiap pembelian langsung dicatat dalam rekening pembelian. Karena tidak ada catatan mutasi persediaan barang maka harga pokok penjualan juga tidak dapat diketahui sewaktu-waktu.
Perhitungan harga pokok penjualan dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Persediaan barang awal                                                 Rp. xxx
Pembelian Netto                                                                      xxx   (+)
Tersedia untuk dijual                                                        Rp. xxx
Persediaan barang akhir                                                        xxx    (-)
Harga Pokok Penjualan                                                   Rp. xxx
b)      Metode Buku (Perpectual), dalam metode ini setiap jenis persediaan dibuatkan rekening sendiri-sendiri yang merupakan buku pembantu persediaan, maka setiap terjadi pembelian barang maka selalu diikuti dengan mutasi persediaan.


HARGA POKOK PERSEDIAAN
Harga pokok adalah jumlah semua pengeluaran-pengeluaran langsung atau tidak langsung yang berhubungan dengan perolehan, penyiapan dan penempatan persediaan tersebut agar dapat dijual.


POTONGAN PEMBELIAN
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mencatat potongan pembelian sebagai pengurang terhadap harga pokok yaitu :
a)      Pembelian dicatat dengan harga bruto.
b)      Pembelian dicatat dengan harga Netto.
Misalnya pada tanggal 1 Desember 2001 dibeli barang dagangan dengan harga faktur Rp.500.000,- Syarat pembayaran 2/10, n/30. Pembayaran uang dilakukan pada tanggal 10 Desember 2001 sehingga diperoleh potongan pembelian sebesar 2%.
Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut diatas adalah sebagai berikut :




a)      Pembelian dicatat dengan harga bruto
Tanggal 1 Desember 2001 :
Pembelian (persediaan barang)                      500.000
      Utang                                                                         500.000
Tanggal 10 Desember 2001 :
Utang                                                       500.000
      Potongan pembelian                                                             10.000
      Kas                                                                             490.000
Apabila pembayaran utang dilakukan sesudah tanggal 10 Desember 2001 berarti tidak diperoleh potongan, pembayaran sebesar Rp. 500.000,- dicatat dengan jurnal sebagai berikut :
Utang                                                       500.000
      Kas                                                                             500.000
b)      Pembelian dicatat dengan harga netto
Ada 2 cara mencatat utang yaitu dengan jumlah netto atau dengan jumlah bruto.


Uang dicatat Netto
Utang dicatat Bruto
1 Desember 2001
Pembelian (persediaan barang)   490.000
    Utang                                                 490.000


Pembelian (persediaan barang)   490.000
Cad. Potongan pembelian             10.000
    Utang                                              500.000
10 Desember 2001
Utang                                         490.000
     Kas                                                 490.000


Utang                                         500.000
 Cad. Pot. Pembelian                             10.000
 Kas                                                    490.000


Apabila pembayarn utang dilakukan sesudah tanggal 10 Desember 2001 berarti tidak mendapat potongan. Jumlah pembayaran utang sebesar Rp. 500.000 dicatat sebagai berikut :


Utang                                  490.000
Pot.Pemb Yang hilang            10.000
      Kas                                            500.000
Utang                          500.000
   Kas                                       500.000
Pot Pemb. Yang hilang   10.000
  Cadangan pot. Pembelian          10.000


METODE PENENTUAN HARGA POKOK
Untuk menghitung harga pokok penjualan dan harga pokok persediaan akhir dapat digunakan berbagai cara yaitu :
a)      Identifikasi Khusus, metode ini didasarkan pada anggapan bahwa arusbarang harus sama dengan arus biaya.
Untuk menjelaskan penggunaan ketiga metode penentuan harga pokok : (FIFO), (LIFO), dan rata-rata tertimbang maka digunakan contoh barang A sebagai berikut :
2001
Pebruari     1   Persediaan 200 Kg @ Rp. 100,-           =          Rp. 20.000,-
                    2   Pembelian  300 Kg @ Rp. 110,-           =                 33.000,-
                    10 Penjualan                                                                          400 Kg
                    15 Pembelian  400 Kg @ Rp. 116,-           =                 46.400,-
                    18 Penjualan                                                                          300 Kg
                    24 Pembelian  100 Kg @ Rp. 126,-           =                 12.600,-
                                                 1.000 Kg                               Rp. 112 000,  700 Kg


b)    Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO)
Dengan menggunakan data diatas, persediaan akhir harga pokok penjualan dalam acara MPKP (FIFO) dihitung sebagai berikut :
Metode Fisik, misalnya perhitungan fisik atas barang-barang dalam gudang pada tanggal 28 pebruari 2001 menunjukkan jumlah 300 Kg. Jumlah 300 Kg terdiri dari :
Pembelian              24 Pebruari    100 Kg @ Rp. 126,- = Rp. 12.600,-
Pembelian              15 Pebruari    200 Kg @ Rp. 166,- =        23.200,-
Jumlah                                             300 Kg                                   = Rp. 35.800,-
HPP :
Rp. 112.000 – 35.800 = 76.200


Metode Buku (Perpectual)
Tgl
Diterima
Dikeluarkan
Saldo
Qt
Hrg/Kg
Jumlah
Qt
Hrg/Kg
Jumlah
Qt
Hrg/Kg
Jumlah
2001
Peb. 01








200


100


20.000
9
300
110
33.000



200
300
100
110
20.000
33.000
10



200
200
100
110
20.000
22.000


100


110


11.000
15
400
116
46.400



100
400
110
116
11.000
46.400
18



100
200
110
116
11.000
23.200


200


116


23.200
24
100
126
12.600



200
100
116
126
23.200
12.600


c)    Rata-rata Tertimbang (Weighted Average), perhitungan harga pokok rata-rata dilakukan dengan cara membagi jumlah harga perolehan dengan kuantitasnya.Dari data dimuka, perhitungan untuk persediaan akhir dan HPP adalah sebagai berikut :


Metode Fisik
Misalnya barang-barang yang ada dalam gudang pada tanggal 28 Pebruari 2001 dihitung   berjumlah 300 Kg.
Persediaan akhir dihitung sebagai berikut :
Pebruari      01        Persediaan    200 Kg @ Rp. 100,- = Rp. 20.000,-
                     09        Pembelian     300 Kg @ Rp. 110,- =        33.000,-
15        Pembelian     400 Kg @ Rp. 116,- =        46.400,-
24        Pembelian     100 Kg @ Rp. 126,- =        12.600,-
                                    1.000 Kg                      Rp. 112.000,-


Harga pokok rata-rata tertimbang : Rp. 112.000                       = Rp. 112,- per kg
                                                                 1.000
         Persediaan barang 28 Pebruari 2001 :
         300 Kg @ Rp. 112,- = Rp. 33.600,-
         Harga Pokok Penjualan :
         Rp. 112.000 – 33.600          = Rp. 78.400,-


Metode Buku (Perpectual), Dalam metode ini barang-barang yang dikeluarkan akan dibebani harga pokok pada akhir periode, karena harga pokok rata-rata baru dihitung pada akhir periode, dan akibatnya jurnal untuk mencatat berkurangnya persediaan barang juga dibuat pada akhir periode.


















BARANG-BARANG (Rata-rata bergerak)
Tgl
Diterima
Dikeluarkan
Saldo
Qt
Hrg/Kg
Jumlah
Qt
Hrg/Kg
Jumlah
Qt
Hrg/Kg
Jumlah
2001
Peb. 01






-
200


100


20.000
9
300
110
33.000



500
106
53.000
10



400
106
42.400
100
106
10.600
15
400
116
46.400



500
114
57.00
18



300
114
32.200
200
114
22.800
24
100
126
12.600



300
118
35.400


d)    Masuk Terakhir Keluar Pertama (MTKP/LIFO)
Penggunaan metode ini akan lebih jelas jika dilihat dalam perhitungan berikut yang datanya diambil dari contoh dimuka.


Metode Fisik, Misalnya pada tanggal 28 Pebruari 2001 diadakan perhitungan fisik terhadap barang-barang dalam gudang yang hasilkan menunjukan jumlah persediaan sebanyak 300 Kg. Harga pokok persediaan barang sebanyak 300 Kg itu dihitung sebagai berikut :


Persediaan Tgl 01 Pebruari 200 Kg @ Rp. 100,- = Rp. 20.000,-
Pembelian  Tgl 09 Pebruari 100 Kg @ Rp. 110,- =        11.000,-
                                             300 Kg                                   Rp. 31.000,-


Harga pokok penjualan = Rp. 112.000 – 31.000 = Rp. 81.000,-


Metode Buku (Perpectual)


BARANG A (MTKP)
Tgl
Diterima
Dikeluarkan
Saldo
Qt
Hrg/Kg
Jumlah
Qt
Hrg/Kg
Jumlah
Qt
Hrg/Kg
Jumlah
2001
Peb. 01








200


100


20.000
9
300
110
33.000



200
300
100
110
20.000
33.000
10



300
100
110
100
33.000
10.000


100


100


10.000
15
400
116
46.400



100
400
100
116
10.000
46.400
18



300
116
34.800
100
100
100
116
10.000
11.600
24
100
126
12.600



100
100
100
100
116
126
10.000
11.600
12.600


Persediaan akhir dapat dilihat pada baris terakhir sebesar :


                     100 Kg @ Rp. 100,- = Rp. 10.000,-
                     100 Kg @ Rp. 116,- =        11.600,-
                     100 Kg @ Rp. 126,- =        12.600,-
Jumlah         300 Kg                                       Rp. 34.200,-


Harga Pokok Penjualan :
Rp. 33.000 + 10.000 + 34.800 = Rp. 77.800,-




thumbnail
Judul: PERSEDIAAN BARANG
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Akuntansi :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Ali oleh Ali Madura - Published by Dunia Komputer dan Internet